Jika istri masih tetap melakukan yang di haramkan oleh syariat agama, setelah di nasihati oleh suami maka dosa dan siksa api neraka akan di tanggung oleh suami.
Demikian ketentuan yang telah di syariaatkan, bagaimanapun suami tetap harus menanggung dosa istri karena suami adalah prmimpin dari istri dan anak-anaknya.
قُلۡ لِّلۡمُؤۡمِنٰتِ یَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِہِنَّ وَ یَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَہُنَّ وَ لَا یُبۡدِیۡنَ زِیۡنَتَہُنَّ اِلَّا مَا ظَہَرَ مِنۡہَا وَ لۡیَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِہِنَّ عَلٰی جُیُوۡبِہِنَّ ۪ وَ لَا یُبۡدِیۡنَ زِیۡنَتَہُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِہِنَّ اَوۡ اٰبَآئِہِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِہِنَّ اَوۡ اَبۡنَآئِہِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِہِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِہِنَّ اَوۡ بَنِیۡۤ اِخۡوَانِہِنَّ اَوۡ بَنِیۡۤ اَخَوٰتِہِنَّ اَوۡ نِسَآئِہِنَّ اَوۡ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُہُنَّ اَوِ التّٰبِعِیۡنَ غَیۡرِ اُولِی الۡاِرۡبَۃِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یَظۡہَرُوۡا عَلٰی عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ ۪ وَ لَا یَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِہِنَّ لِیُعۡلَمَ مَا یُخۡفِیۡنَ مِنۡ زِیۡنَتِہِنَّ ؕ وَ تُوۡبُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ جَمِیۡعًا اَیُّہَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung,” (QS. An-Nûr [24]:31).
Berdasarkan ayat di atas, perintah menutup aurat itu wajib diberlakuan untuk semua muslimah, termasuk isteri kita.
Oleh karena itu, sebagai seorang suami yang sholeh dan bijak, tentu kita harus menasehati pasangan hidup kita agar tidak mendapatkan dosa karena melalaikan perintah Allah SWT di atas.
Terlebih, sebagai seorang suami itu memiliki tanggungjawab untuk mendidik anak-anak dan isterinya agar menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dimana semua amanah itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.
Selain itu, jika seorang suami membiarkan isterinya mengumbar aurat maka ia akan termasuk dalam salah satu ciri laki-laki yang tidak akan dilihat Allah SWT pada hari kiamat.
Salah satunya adalah dayuts, yaitu laki-laki yang tidak punya rasa cemburu terhadap istrinya.
Perbuatannya disebut diyatsah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga orang yang tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang meniru gaya laki-laki, dan dayuts.”(HR. An Nasa’i dan Ahmad).
Adapun salah satu bentuk perbuatan diyatsah atau sikap laki-laki dayyuts yaitu membiarkan istrinya tidak menutup aurat.
Sebab, menutup aurat adalah kewajiban seorang muslimah.
Tidak ada satu pun ulama yang mengingkari kewajiban menutup aurat.
Sedangkan aurat wanita menurut jumhur ulama adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan.
Oleh karena itu, jika kita sebagai seorang suami tidak ingin terkategori dalam ciri laki-laki dayuts, maka mulai saat ini kita nasehati isteri kita secara ma’ruf, baik langsung maupun tidak langsung.
Cara menasehati langsung misalnya dengan menjelaskan perintah Allah SWT tentang kewajiban menutup aurat bagi perempuan muslim, tentu menasehatinya dengan cara ma’ruf tanpa harus membentak-bentak atau memarahinya.
Sementara cara menasehati tidak langsung misalnya dengan memberikan video ceramah-ceramah atau buku-buku tentang kewajiban menutup aurat.
Semoga kita para suami diberikan kesabaran dan kelapangan hati untuk mendidik isteri kita agar menjadi lebih baik lagi. Waallahu’alam. *
Foto Tentara Ini Diyakini Sebagai Pasukan Dajjal, Benarkah?
Kemunculan Dajjal sebagai fitnah terbesar umat Islam di akhir zaman telah disebutkan oleh berbagai hadis sahih yang kebenarannya tidak dapat diragukan lagi. Meski tak disebutkan secara rinci mengenai waktu kemunculanya, Rasulullah telah memberikan beberapa isyarat yang menandakan bahwa kemunculan Dajjal Al-Masih telah dekat.

Kekhawatiran umat Islam mengenai kemunculan sosok Dajjal merupakan hal yang sangat wajar. Dilansir dari Buku Al-Yaumul Akhir Al-Qiyamatus Sughro, kedatangan Dajjal merupakan ujian terberat yang pernah ada sepanjang sejarah peradaban manusia. Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor selaku penulis buku tersebut mengutip sebuah hadis riwayat Imam Muslim yang berbunyi, “Tidak ada satu pun makhluk sejak Adam diciptakan hingga terjadinya kiamat yang fitnahnya (cobaannya) lebih besar dari Dajjal.”

Pada Buku Huru-Hara Akhir Zaman karya Amin Muhammad Jamaluddin juga disebutkan bahwasannya Dajjal merupakan sosok yang sangat bengis dan kejam, khususnya kepada umat Islam. Sosok ini dicirikan sebagai manusia yang salah satu matanya buta karena cacat dan terdapat tulisan huruf Arab Ka-Fa-Ra tepat di bagian tengah dahinya.

Mengenai ciri tersebut, netter sempat dihebohkan oleh unggahan akun instagram @eye.on.palestine tentang beberapa foto yang memperlihatkan tentara Zionis Israel beberapa waktu lalu. Pada salah satu foto tersebut terlihat seorang tentara Israel yang sedang memanggul tas ransel bertuliskan ‘Infidel’. Pada bagian bawah tulisan tersebut, terdapat huruf arab yang bertuliskan Ka-Fa-Ra sebagaimana yang dicirikan sebagai simbol Dajjal.

Dilansir dari laman kfir-idf.org, kata infidel secara harfiah bermakna seseorang yang tidak percaya kepada ajaran agama tertentu. Kata ini juga bisa diartikan ‘orang yang beragama lain’ atau serupa dengan terminologi kata kafir dalam kepercayaan umat Islam. Kata infidel sendiri berasal dari bahasa Perancis ‘infidele’ atau bahasa Latin ‘infidelis’ yang mulai digunakan dan dikenal secara luas sejak akhir abad ke-15.

Adapun, para tentara yang menggunakan emblem Ka-Fa-Ra tersebut merupakan salah satu pasukan elit bentukan Israel yang bernama Kifr Brigade. Kifr dalam bahasa Yahudi bermakna ‘anak singa’ atau ‘singa muda’. Kifr Brigade merupakan tentara infantri, artinya tentara yang dikhususkan untuk pertempuran darat yang dilengkapi dengan persenjataan ringan untuk pertempuran jarak dekat. Tugas utama mereka ialah memerangi terorisme khususnya yang terjadi di wilayah dekat pemukiman Jalur Gaza.

Tentara Zionis Israel yang notabene adalah bangsa Yahudi adalah sosok utama yang kelak akan menjadi pengikut Dajjal. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadis riwayat Muslim nomer 2944, “Yang mengikuti Dajjal adalah orang Yahudi dari Ashbahan dan jumlahnya ada 70.000 orang dan mereka memakai thilsan (sesuatu yang menutup pundak dan badan).”
Lebih lanjut dijelaskan, tak hanya kalangan bangsa Yahudi di wilayah Israel yang kelak akan menjadi pengikut Dajjal. Kata ‘Ashbahan’ pada hadis tersebut merujuk pada bangsa Yahudi yang tinggal di wilayah Iran dan seringkali bersekutu dengan Israel untuk memerangi kaum muslimin.

Menghadapi kenyataan mengerikan tersebut, Rasulullah telah mengajarkan beberapa amalan yang dapat menyelamatkan kaum muslimin dari kekejaman Dajjal beserta pasukannya. Salah satunya ialah dengan cara berdoa ketika duduk tasyahud di akhir salat menjelang salam. Dalam posisi tersebut seorang muslim dianjurkan untuk berdoa sebagaimana doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah dalam hadis riwayat Muslim yang bermakna, “Ya Allah, aku meminta perlindungan kepada-Mu dari siksa kubur, siksa neraka, penyimpangan ketika hidup dan mati, dan keburukan Al-Masih Dajjal.”
Sebagaimana Allah Berfirman;
اعوذ بالله من الشيطان الرجيم
لُعِنَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِیۤ إِسۡرَ ٰۤءِیلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِیسَى ٱبۡنِ مَرۡیَمَۚ ذَ ٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ یَعۡتَدُونَ ٧٨ كَانُوا۟ لَا یَتَنَاهَوۡنَ عَن مُّنكَرࣲ فَعَلُوهُۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُوا۟ یَفۡعَلُونَ ٧٩ تَرَىٰ كَثِیرࣰا مِّنۡهُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ۚ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ أَن سَخِطَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِمۡ وَفِی ٱلۡعَذَابِ هُمۡ خَـٰلِدُونَ ٨٠ وَلَوۡ كَانُوا۟ یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِیِّ وَمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِیَاۤءَ وَلَـٰكِنَّ كَثِیرࣰا مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَ ٨١﴾ [المائدة ٧٨-٨١]

