Belanja semua keperluan Anda secara online kebih mudah!
Cuplikan video Mike Tyson VS Floyd sebagai pemanis saja!
Selama ini kita berpandangan bahwa, yang mampu mengalahkan lawan itulah juara sejati, yang menjadikan orang pecundang setelah di kalahkan oleh kita.
Menjadikan orang lain menjadi juara karena di latih oleh kita itulah juara sejati, padahal persepsi demikian tidak benar semuanya.
Yang sesungguhnya juara sejati itu adalah yang mampu mengesampingkan dan membuang ego pribadi, kemudian mengedepankan kepentingan orang lain yang lebih maslahat dan bermanfaat, misalnya, memberikan dukungan serta suport agar lebih percaya diri dan tidak jumawa setelah berhasil menjadi pemenang ataupun kalah dalam bertanding tidak menjadi lemah dan berputus asa.
Kekhawatiran akan dikalahkan orang lain dan keinginan besar untuk mengalahkan orang lain yang berlebihan itu terbukti telah menimbulkan berbagai masalah di masyarakat. Persaingan tidak sehat, psy war, gratifikasi untuk memenangkan tender, praktek money politic untuk memenangkan pemilu, dan pemaksakan kemenangan dengan jalan yang tidak sportif adalah produk dari kekhawatiran tersebut.
Sekarang, sudah saatnya kita mengubah pandangan kita akan filosofi kemenangan. Menjadi pemenang tidaklah harus dengan jalan mengalahkan yang lain. Untuk menjadi pahlawan tidak harus dengan cara mengalahkan bajingan.
Filosofi satu pemenang dan lainnya pecundang bukanlah sesuatu yang relevan bagi kehidupan di zaman sekarang. Sebuah akhir yang win-win adalah sesuatu yang lebih dibutuhkan.
Mendefinisikan Juara
John C. Mawell dalam bukunya the Maxwell Daily Reader mengatakan bahwa orang yang terlalu fokus kepada orang lain adalah orang yang merasa sempurna dan menutup pintu untuk melihat kekurangannya sendiri. Fokus untuk mengalahkan orang lain harus kita imbangi dengan memperbaiki diri. Kita seyogyanya memandang bahwa yang pertama harus kita kalahkan adalah diri kita sendiri. Kita tidak dapat menjadi juara dengan memelihara ego yang besar. Egoisme hanya akan menimbulkan keinginan untuk menjadi juara tanpa terlalu banyak berusaha. Egoisme akan melahirkan keinginan untuk dinaungi keberuntungan secara terus menerus yang tidak dibarengi dengan usaha untuk menciptakan peluang. Egoisme juga akan memupuk hasrat untuk mengalahkan yang jauh lebih besar dari motivasi memperbaiki diri sendiri.
Sudah waktunya kita mendefinisikan kembali apa yang kita sebut sebagai juara. Kita seyogyanya mencoba untuk mencari perspektif baru tentang arti kemenangan. Bangsa kita sudah terlalu penuh dengan orang-orang yang selalu bernafsu untuk mengalahkan dengan menjadikan yang lain pecundang. Kita tidak akan pernah bangkit jika semua aspek kehidupan diisi dengan saling sikut, saling jegal dan saling menjatuhkan. Bangsa kita memerlukan manusia-manusia yang bersedia mengesampingkan hasrat menang sendirian dan mengedepankan kemenangan bersama.
Hidup bukanlah sebuah permainan dimana kita harus terus menerus mengalahkan orang lain. Hidup adalah sebuah ruangan luas yang perlu kita isi dengan introspeksi diri, memperbaiki diri serta memperbaiki diri orang lain agar berjiwa besar.
Angkat kepercayaan diri orang lain setelah terjatuh dan berikan suport agar lebih semangat dalam berusaha mengejar impian (cita-cita).
Motivasi bermanfaat kepada orang lain dari sang juara itulah nilai lebih dan akan menjadikan sang juara menjadi juara sejati.
Tentunya hal ini tercipta setelah egoisme di singkirkan dari diri sang juara itu.

No comments:
Post a Comment